Beranda Berita
  • TINDAKAN OPERASI YANG AMAN

    Diskusi Himpunan Perawat Kamar Bedah Indonesia (HIPKABI) Dalam Kunjungannya ke  PT. HOGY INDONESIA

    Peduli terhadap keselamatan pasien dan tenaga medis, HMSI berkomitmen memasarkan  dan  mengembang-kan sebuah kebijakan dan manaje-men rumah sakit yang efisien. Selain itu, Hogy juga terus berupaya meyakinkan dokter, staf medis dan semua orang yang terlibat dalam tindakan operasi untuk selalu mengutamakan perlindungan. Sebagai penyedia layanan kesehatan, rumah sakit mempunyai tanggung jawab penuh terhadap semua jenis  pelayanan medis yang diberikan kepada pasien.
    Tidak terkecuali tanggung jawab di ruang operasi. Tanggung jawab inilah yang selalu dikampa-
    nyekan oleh Hogy sebagai wujud kepeduliannya terhadap mutu dan kualitas pelayanan rumah sakit terutama di ruang bedah.
    Untuk  mencapai  tujuan  tersebut, HMSI giat melakukan kegiatan edukasi kepada tenaga kesehatan di rumah sakit baik medis maupun paramedis.  Salah  satunya  adalah dengan  memfasilitasi diskusi ber-tajuk “ Tindakan Operasi Yang Aman”, yang dilaksanakan pada tanggal 5 Februari di pabrik Hogy, Kawasan MM 2100, Cibitung, Bekasi.

    Diskusi   itu   sendiri   merupakan rangkaian kegiatan dari kunjungan pengurus HIPKABI, adapun pengurus HIPKABI yang hadir diantaranya;
    Ketua Umum HIPKABI Suyatno, Azis Mulyana,  Tatang,    Suatmaji,  Mimi Suasana diskusi antara manajemen HOGY dan pengurus HIPKABI juga dihadiri oleh Kepala Kamar Operasi dari 11 rumah sakit Hartimi yang mewakili pengurus pusat Jakarta, kemu dian dari luar Jakarta adalah Tatang (Bogor), Rasmujito    
    (Semarang),  Eko Teguh Bagiono (Jogjakarta), Turkanto     (Surabaya), Bambang Suliono (Malang), dan Asep Ermaya (Bandung).    
    Menyikapi hal tersebut,  Peserta diskusi yang notobene adalah para perawat senior ruang operasi di rumah sakitnya masing-masing ternyata memiliki visi yang sama untuk mewujudkan suatu tindakan operasi yang aman baik bagi pasien maupun bagi tenaga kesehatan.    
    Dari mulai desain ruangan operasi, prosedur cuci tangan, prosedur draping, prosedur sterilisasi, proses    cheklist pasien, dan prosedur keselamatan lainnya, Keseluruhan prosedur tersebut dikemas di rumah sakit melalui standar operasional baku yang walaupun telah dimiliki oleh semua RS namun sayangnya belum seragam. Penyebab standar tersebut menjadi tidak ideal adalah karena adanya perbedaan pola pikir dan keterbatasan anggaran,    
    Salah satu contohnya adalah hanya sebagian kecil dari rumah sakit yang telah beralih menggunakan sebagai upaya pencegahan terhadap kemungkinan
    produk gown dan drape disposable untuk tindakan    terjadinya infeksi pada tindakan pembedahan.  
    operasi. Padahal sebetulnya berdasarkan ketentuanStandard Precaution semua produk cairan dan darah
    manusia dianggap memiliki resiko menyebarkan infeksi.Azis Mulyana mengeluarkan pernyataan menarik, “Cepat atau lambat, suka atau tidak suka, rumah sakit memang harus menggunakan produk disposable,” tukasnya.
    Pernyataan  tersebut rasanya memang tidak berlebihan mengingat penyakit-penyakit yang ditularkan melalui cairan tubuh dan darah tidak segera memiliki
    tanda-tanda klinis, untuk itu yang tepat dan harus dilakukan adalah mencegah dan memutuskan rantaipenularannya.
    Adapun  tujuan  Hogy  dari  kegiatan  kunjungan tersebut adalah untuk menunjukkan kepada para Kepala Cabang HIPKABI yang  mayoritas adalah kepala
    instalasi bedah di rumah sakitnya, bahwa disposable gown dan drape yang diproduksi oleh Hogy memiliki standar yang sangat baik untuk digunakan, utamanya



Komentar

Tinggalkan Komentar.